Sabtu, 23 April 2011

Golden Wing, Band Palembang Tempoe Doeloe



          Di era tahun 1960-an tidak banyak dikenal kelompok musik di Indonesia yang merekam lagu-lagu mereka sendiri dan me-release album-nya ke tengah khalayak. Sebagian besar kelompok musik pada waktu itu hanya menjadi kelompok musik pengiring para penyanyi tunggal, pada masa ini dikenal nama-nama kelompok musik seperti Zaenal Combo, Arulan, Empat Nada, Panca Nada, Eka Sapta dan sebagainya. Masa ini memang masa keemasan para penyanyi tunggal. Memang ada sedikit perkecualian, yakni pada kelompok musik Koes Bersaudara dan Eka Sapta (yang merekam lagu-lagu tanpa syair/instrumentalia).
            Pada masa itu, di kota Palembang tidak banyak kelompok musik yang eksis. Maklum, mendirikan band bukan perkara mudah, untuk ini diperlukan biaya yang mahal — khususnya untuk membeli peralatan musik. Apalagi di Palembang tidak ada tempat untuk menyewa peralatan band, seperti yang dapat ditemui di kota-kota besar di pulau Jawa. Pada pertengahan tahun 1960-an, di Palembang dikenal tiga kelompok musik yang bagus dan memiliki peralatan yang cukup mewah untuk ukuran waktu itu, yakni Kerangga Combo,  Octarina dan Rheniara. Ketiga kelompok musik ini sudah menggunakan peralatan musik dan sound system merk Fender dan Hofner.
            Memasuki paruh kedua tahun 1960-an mulai bermunculan kelompok-kelompok musik elit pesaing Kerangga Combo, Octarina dan Rheniara. Perusahaan pelayaran PT. Pelni mendirikan kelompok musik yang diberi nama Nada Samudra dan Pertamina mendirikan kelompok musik yang bernama Kuda Laut. Karena dicukongi oleh dua perusahaan besar, tidak heran apabila kedua kelompok musik ini memiliki peralatan yang mewah. Tapi sama halnya di tempat-tempat lain, kelompok-kelompok musik Palembang ini hanya eksis sebagai band pengiring para penyanyi solo. Mereka tidak pernah merekam dan merilis album sendiri, meskipun mereka juga punya stock lagu-lagu ciptaan sendiri.
            Di bawah bayang-bayang kelompok-kelompok musik elit di atas, di Palembang pada tahun 1960-an juga tumbuh banyak kelompok musik lapis kedua dan ketiga. Kelompok-kelompok musik kelas ini, kebanyakan menggunakan peralatan musik yang lebih rendah mutunya, yakni peralatan musik buatan dalam negeri atau paling banter buatan Jepang. Salah satu kelompok musik yang kemudian menjadi embryo kelompok musik besar di Palembang adalah kelompok musik Black Stones yang bermarkas di Lorong Batu Item, jalan Kapten A. Rivai Palembang. Black Stones ini di awaki antara lain oleh : Fit Kien (lead guitar); Bakar (Bass Guitar); Karel Cassidy (rhythm guitar), dan Ismet Soewondo (lead vocal).
            Pada waktu yang hampir bersamaan, sekitar tahun 1968, Batalyon Zipur (Zeni Tempur) Palembang juga menyediakan peralatan band buatan dalam negeri dan merekrut beberapa pemain Black Stones untuk mendirikan kelompok musik yang diberi nama Band Pionir. Pemain band Pionir ini terdiri antara lain : Fit Kien (Gitar Utama); Bakar (gitar bass); Karel Cassidy (gitar pengiring dan vokal); Musiardanis/Ferdinand Tuyu (drums), dan Ismet Soewondo (lead vocal). Selain dari menyediakan peralatan musik, Yon Zipur Palembang (yang waktu itu dikomandani oleh Mayor Rustandi) juga menyediakan peralatan radio siaran, yang mengudara dengan nama Suara Pramuka.
            Pada akhir tahun 1970 kelompok band Pionir ini bubar karena sebagian besar personilnya memilih untuk melanjutkan pendidikan, misalnya : Musiardanis pindah ke Yogya; Ferdinand Tuyu pindah ke Jakarta, dan Ismet Soewondo lebih mengutamakan kuliahnya di Fakultas Tehnik Unsri. Ketiga anggota lainnya (Fit Kien, Karel dan Bakar) tetap bertahan di Band Black Stones. Namun hal ini tidak lama, sebuah pabrik kecap di Palembang, yakni pabrik kecap Tong Hong, membeli peralatan musik dan merekrut Fit Kien dan Karel Cassidy. Era kelompok musik Golden Wing dimulai dari saat ini.
            Band Golden Wing Palembang generasi pertama ini masih berbau band pengiring, era rekaman lagu kelompok-kelompok musik belum lagi dimulai. Golden Wing generasi pertama diawaki oleh pemain-pemain antara lain : Fit Kien (kemudian berganti nama menjadi Piter Kenn) pada lead guitar; Kun Lung (Bass Guitar); Tarno (drums), dan Karel Cassidy (kemudian berganti nama menjadi Karel Simon) bertugas sebagai pemain gitar pengiring dan penyanyi utama.
            Sekitar tahun 1972 atau 1973 personil Golden Wing mengalami perombakan, beberapa pemain diganti dan awak band ini menjadi terdiri dari : Piter Kenn; Kun Lung (ganti nama menjadi Iksan); Carel Simon; Dedi Mantra (keyboard), dan Victor Eky (drums). Pada tahun 1973, kelompok-kelompok musik mulai merekam lagu-lagu mereka sendiri. Kita tentu ingat, mulai tahun ini bermunculan band-band tenar dengan lagu-lagu mereka sendiri, seperti : Rollies; Rhapsodia; Aka; Mercy’s; Panbers; Band Bentoel; Favourites Group, dan sebagainya.
            Pada tahun 1974, Golden Wing Palembang meluncurkan album pertama mereka yang diberi label Mutiara Palembang. Beberapa lagu dalam album ini menjadi hit, antara lain lagu : Mutiara Palembang; Di Mana; Give Me, dan Hanny. Pada tahun 1975, Golden Wing meluncurkan sebuah album yang berisikan lagu-lagu pop melayu. Dalam album ini mulai dinyanyikan sebuah lagu pop daerah Sumsel yang diracik secara apik berjudul Sebambangan. Pada album ini, awak Golden Wing sudah dengan formasi baru, yakni : Piter Kenn pada gitar utama; Areng Widodo (berasal dari Yogya) pada bass; Carel Simon/lead vocal; Dedi Mantra (keyboard), dan seorang pemain drum baru. Album pop melayu ini boleh dikatakan merupakan album terakhir Golden Wing, karena setelah itu Carel Simon bersama-sama dengan isterinya, Hera Sofyan, dan S. Tarno mendirikan kelompok musik No Wing, yang mengkhususkan diri merekam lagu-lagu pop daerah Sumbagsel.

Bengkulu, 10   Mei 2008.

(H. Musiardanis)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar